Adventure to Mt. Krakatoa

Experential Learning FIA Atma Jaya
December 16, 2014
taking pictures
Make Better Photos: Making vs. Taking Pictures
December 18, 2014
Show all

Adventure to Mt. Krakatoa

krakatau-sea

Jumat , 7 november 2014

Pk 07.56 pagi teman kami Prahara Galih K menyatakan tidak dapat mengikut perjalanan kami menuju Mt.krakatau.Sehingga hanya tersisa kami berempat saya, Ricky, Nauval (Bopeng), dan Bang Edo (Vau).

Semua berawal dari keinginan kami mendirikan komunitas backpacker di salah satu universitas di daerah gading serpong.Kesamaan hobi kami yang membuat kami yakin bisa mendirikan komunitas ini. Saya, galih, ricky, nauval, nuel dan mima. Kami sepakat untuk melakukan perjalan menuju Mt.Krakatau pada hari ini. Tetapi karena adanya beberapa halangan yang mengharuskan kami berangkat hanya bertiga, ditambah Bang Edo yang bersedia mengikuti perjalanan pertama komunitas kami yang bernama “JALAK’ kepanjangan dari “Jejak Langkah”.

Kami pemuda-pemudi yang sangat menyukai “karya” Tuhan secara langsung.Kami bukan pemuda/i yang memiliki uang yang berlimpah untuk selalu menikmati “karya” Tuhan.
Tapi kami pemuda/i yang yakin selama masih ada jalan dan keinginan positive, tujuan tersebut akan tercapai dengan segala usaha dan meng-explore kekurangan serta kelebihan yang kami miliki.

Berawal dari landasar pemikiran seperti itu kami berkumpul dan belajar bersama.Indonesia-Mount-Krakatau-

Pk.19.00

Kami berkumpul di rumah sekaligus Base camp milik teman kami yang bernama Galih Krisna .”CATALINA” itu nama komplek tempat kami berkumpul dan memulai perjalanan.
Sesampainya di Base camp selalu ramai seperti biasa.Ada teman-teman dari komunitas saya dibidang ART yang menamai dirinya “Kacau Visual” ada sekitar 5 orang ditambah Mozart atau biasa dipanggil moza. Tetapi saya tidak melihat kehadiran ricky. Kami bertiga sudah berkumpul sudah kurang lebih 1 jam ada yang bermain gitar, ada yang nonton final ada juga yang seperti saya yang sedang menunggu kedatangan Ricky.

Pk 20.00

Ricky datang dan kami lengkap berempat. Obrolan di buka dengan pertanyaan “kita mau jalan sekarang apa besok pagi?” . Dengan tenang semua menjawab “sekarang” di karenakan jika kami tidur akan lebih membuat kami malas.
Tetapi kami tidak pergi sekarang melaikan melanjutkan menonton bola bersama pertandingan Final Piala ISL antara persipura JAYAPURA melawan persib BANDUNG. Pertandingan dimenangkan oleh Persib BANDUNG dengan drama adu penalty .karena hasil itu saya harus membayar 1 bungkus rokok FILTER kepada ricky. Dan kami memulai semuanya dari sini.

Pk 22.00

Kami berangkat dibonceng motor oleh kawan-kawan dari “KacauVisual” sampai jalan besar Serpong. Dari sana kami menaiki angkot berwarna hijau yang menuju ke Pool Bus ARIMBI di daerah kebun nanas tangerang. Angkot ini mengambil uang kami sebesar Rp 3.000 rupiah perorangnya.

Pk 23.00

Kami pergi menaiki Bus ARIMBI jurusan Merak.Disana kami duduk terpisah.Saya di paling belakang bus, tepatnya diruang smoking area. Di luar smoking area ada noval di sisi kanan bus bersama orang lain, di sisi kiri ada bang Edo dengan Headsheetnya bersama orang lain. Dan tepat di depan nouval ada ricky yang sudah tertidur pulas dengan cepatnya.

Di samping saya ada pemuda yang lebih tua dari saya lebih kurang 3 tahun diatas saya , yang berprofesi sebagai seorang penjual seprei .
“Jali” kata dia sambil mengulurkan rokok pro mild.Perkenalan yang sangat ramah dan tau tata pergaulan yang baik.
“mau jalan kemana mas?” belom menjawab saya sudah diberi pertanyaan ke-2 oleh Jali.
“niatnya sih G.Krakatau bang kalo bisa nyebrang kesana , soalnya katanya nyewa kapalnya mahal” saya menjawab sambil membakar rokok yang diberikannya.
”sebentar saya telpon temen saya mas” jawabnya sambil dengan cepat mengambil handphone dalam kantong celana bahan yang digunakannya.
“2 juta mas, temen saya ber 10 nyewa kapalnya.” Kata jali.
“mahal juga ya, mas. Tapi ada kapal kan ya mas yang bolak balik nganter barang disana?” jawab dan Tanya saya.
“ada mas, tapi gak tau kapan tadi saya gak nannya.” Jawabnya sambil membayar bus Rp 25.000 rupiah.saya tertidur…

Sabtu, 8 November 2014

Pk 00.30

Saya terbangun….Jali sudah turun, katanya di Serang. Informasi yang di kasih tau kenek supir yang ternyata nguping obrolan tadi.Tibanya kami di pelabuhan MERAK.Kami turun dan berjalan melewati lorong yang di kelilingin pedagang yang menawarkan makanan dan minuman untuk persediaan di kapal dan oleh-oleh.

“nasi pake Rendang aja deh bu.”
Suara riki memesan makanan untuk kami bungkus sebagai bekal di perjalanan kapal dari Merak sampe Bakahuni .
sesampainya di depan loket kami melihat jam ternyata masih

Pk 01.30

Kami memutus kan untuk mencari kopi di pinggiran perbatasan laut dan darat.”kita cari yang sepi biar berbagi rejeki sama yang lain” cetus Bang Edo sambil jalan menghampiri seorang nenek- nenek yang setengah mengantuk. Saya membuka kursi lipat dan duduk di kursi lipat tersebut sambil mendengarkan cerita-cerita Bang Edo dengan pengalamannya yang beragam.

Pk 03.00

Kami menaiki kapal dengan membayar Rp15.000 rupiah.Kami duduk di bagian atas. Sambil foto dan bopeng makan saya dan ricky berdiskusi mengenai penjualan trip ke G.Krakatau untuk temen-temen di kampus. Hujan turun malu-malu, tidak seperti biasanya yang selalu keroyokan.
Kami bertiga memutuskan untuk mencari tempat dan masuk ke bagian dalam, dilihat dari tata barang tempat ini seperti kantin ada kursi meja jual makanan dan minuman dan dalam ruangan ini memiliki AC yang cukup baik.
Kami mengambil keputusan untuk beristirahat diruangan ini.

Pk 06.00

Kami tiba di pebuhan bakahuni.Kami jalan menuju keluar dermaga besar tersebut. Banyak calo-calo rusuh menawarkan jasa kepada kami, sampai akhirnya supir angkot berwarna kuning berpenumpang 2 orang perempuan di belakang .
teriak supir “ mau kemana mas?” tanyanya.
“ kami mau ke dermaga canti pak,” jawab kami.
“ya bener naek ini aja”. Jawab supir itu
“ berapa biayanya ?” Tanya saya
“200 ribu aja lah , ayo sini naik ?”jawab nya sambil tangan melambai menawarkan masuk ke dalam mobilnya.
“yah” saya meninggalkannya.
“kita backpacker kere pak, kalo segitu mah gak ada pak” sahut Bang Edo saat melihat saya meninggalkan obrolan dengan supir tersebut.
“berapa dong? Kalo gak mau jalan kaki aja bang!” teriak supir itu sambil marah karena tawarannya kami tolak.
“ini juga mau jalan kaki bang” teriak temen-temen lainnya.

Kami memutuskan untung makan bubur ayam di depan dermaga besar bakahuni. Ada tukang bubur yang cukup mengenyangkan dengan harga standart, di depan pos polisi bakahuni.
“2 bu buburnya” ricky memesan bubur tersebut.
“lo makan gak we, peng ?” Tanya ricky pada kami.
“bu, ABC susu satu” pesan bopeng sambil menolak tawaran ricky
“mau kopi juga gak we?” Tanya bopeng pada saya.
“join aja ah” jawab saya.

Sambil menunggu Bang Edo dan Ricky makan, saya dan bopeng berinisiatif untuk mencari informasi bagai mana cara mencapai ke dermaga canti.
Saya berjalan kedepan kearah pos polisi yang sedang beristirahat.
“permisi pak, maaf ganggu kalo boleh tau transportasi yang ke dermaga canti naik apa ya pak?” Tanya saya kepada pak polisi. Naik angkot kunging aja minta anter karena dia berenti di pasar impress, atau gak naik ojek sama biayanya Rp 20000 rupiah”. Jawabnya sambil melihat tajam kearah kami.
“terima kasih banyak pak”. Jawab bopeng mengakhiri pertanyaan tadi.

Sebelum kami makan ada kejadian lucu antara Bang Edo dan Ricky, dimana Bang Edo membayar bubur seharga Rp 8000 rupiah dan Ricky membayar seharga Rp12000 rupiah. Padahal mereka berdua makan ditempat yang sama dengan lauk yang sama yaitu dengan 2 sate usus dan ati ampela.

Pk 08.00

Karena semakin siang saya berinisiatif untuk mengajak segera berangkat mencari angkot untuk menuju dermaga Canti.Baru jalan beberapa menit, kami melihat seseorang sedang makan didalam mobil angkot kuning.saya dan teman-teman saling melirik-lirik.
“mau kemana mas ?” tanya supir angkot membuyarkan lirikan kami semua.
“kita mau ke Dermaga Canti bang .” jawab saya.
“yaudah sama saya aja .” jawab supir tersebut.
“biayanya berapa pak sampai dermaga canti?” jawab saya.
“200.000 ribu aja de.” Jawabnya sambil memakan lontong sayur.
“kita gak nyarter pak naik biasa aja, kayak biasa aja lah pak ,kita anak backpacker kere pak.” Jawab Bang Edo.
“ia pak biasanya sampe canti Rp 20000 ribu pak perorang.” Jawab saya
“yaudah ayo”. Jawab supir tersebut sambil buru-buru menghabiskan makanan.
“santai aja pak, abisin dulu aja makanannya.” Saya menanggapi respon supir yang terburu-buru.

Saya duduk dibangku paling depan, sedangkan Bang Edo , di pojok belakang disamping Bang Edo ada Bopeng dan Ricky.
“dari mana mas?” Tanya supir tersebut.
“kita dari Jakarta pak, cuma emang sering jalan-jalan bareng aja, tapi ngeteng-ngeteng bus pak.” Jawab saya.
“ Emang kalo angkot yang di sewa dari sana ke pelabuhan canti Rp 200.000 ribu pak?” Tanya saya.
“ia karena di dalam terminalkan ada agentnya jadi saya gak boleh narik dari dalam gitu mas.” Jawabnya.
“oh .. iya pak, nama bapak siapa?” Tanya saya.
“Doyok mas, asli orang sini saya.”jawabnya
“Gini mas saya ada rencana bikin Trip ke G.Krakatau mungkin nanti saya mau charter mobil mas doyok nih, minta no hp nya ya mas”. Tanya saya

Pk 09.30

Kami tiba di dermaga canti.Bopeng dan Ricky langsung lari menuju kamar mandi umum. Bang Edo mengeluarkan camera dan saya pergi mendekati seorang nelayan yang sedang mengangkat barang, untuk mencari informasi bagai mana, dan dengam apa kami bisa sampai ke P.Sebesi .
“Permisi pak, kalo pengen ke P.Sebesi pake kapal kecil ini bisa tidak pak?” Tanya saya.
“bisa aja mas.” Jawabnya
“biaya berapa ya pak? Tanya saya lagi
“kalo naek kapal mesin yang lumayan gede itu kan bisa sampe 4 juta rupiah, kalo pake ini mah lima ratus ribu rupiah aja mas. Mas berapa orang?” Jawabnya
“4 orang mas, itu gak bisa kurang mas? 200 aja bisa gak mas?” Tanya saya dengan ekspresi sok polos.
“kalo 200 ribu saya belom berani mas, soalnya itu mah kalah di minyak doang.” Jawabnya

“ Kalo selain kapal ini ada kapal yang untuk umum gitu gak sih mas? Tanya saya.
“ Ada mas tiketnya kurang lebih Rp 25000 ribu lah, tapi cuma ada sekita jam pk 13.00 siang doang tuh mas.” Jawabnya.

Akhirnya sambil menunggu waktu kami singgah diwarung yang berada persis disamping dermaga. Di sana kami beristirahat sambil mencari beberapa informasi yang penting.

PK 12.00

Kami berempat berkumpul bertukar pikiran, bercerita sambil tertawa terbahak-bahak.Orang-orang disekitar kami pun merasakan aura positive yang kami pancarkan.Mereka ikut tertawa melihat kami, sangat ramah di pedasaan sekitar dermaga Canti ini. Waktu mendakati kami berangkat, kami berbagi tugas saya dan Bopeng melengkapi persediaan logistic kami yang kurang, Ricky mencari informasi keberangkatan, dan bang Edo asik mengambil gambar sambil bergantian menjaga barang-barang kami.

“Bang minyak goreng ¼ ada?” Tanya saya.
“ada ni Rp4500 .” jawabnya sambil mencari minyak tersebut.
“telor berapa peng?” Tanya saya pada bopeng.
“sekilo aja we.” Jawabnya santai.
“banyak amat?” respon saya cepat.

“sekilo telor dapet berapa butir bu?” Tanya saya.
“15 butir lah” kurang lebihnya.
“buset, banyak juga. Beli goceng aja bu.”.jawab saya.
“ya paling kalo satuan goceng dapet 4 mas.” Jawabnya.
“yang gede-gede bu, jawab bopeng.” Tidak mau rugi.

Kami kembali berkumpul dan re-packing barang-barang kembali. Melihat jam kami melihat jarum jam berada pada Pk 12.30.kami memesan makanan…

Pk 13.00

Makanan tak kunjung datang, kami khawatir kapal segera jalan.
“santai aja mas kapal mah santai kok.” Jawab ABK (Anak Buah Kapal) sambil jalan masuk warung dari pintu belakang.

“nih mas indomie rebus sama nasinya” jawab ibunya sambil memberikan mangkok mie yang berasap karena panas.
“asik makan, jawab Ricky.” Jawab Ricky sambil mengambil mie tersebut.
“gileee jauh-jauh ke pulau Sumatra cuma buat makan, makanan ala kos-kosan, mie rebus pake telor sama nasi.” Cetus saya meledek Ricky. Semua tertawa.
“nih mas mie goring 2 pake telor” suara ibu tersebut memecahkan tawa kami berempat.
“ye lau sama aja, kecil-kecil makannya banyak juga. Mana sini cicip.” Jawab bang Edo dan kami semua tertawa.Kami berangkat dari dermaga canti menuju pulau sebesi.

Kami sudah diatas kapall, di bagian atas. “tiket mas?” kata penjual tiket kepada kami.
“berapa mas biayanya?” Tanya saya.
“perorang Rp20000, sudah sama tiker jasa raharja.” Jawabnya.
“ok nih 4 orang.” Respon saya.
“yu masuk” kata bang Edo sambil melangkah turun kebawah kebagian tengah kapal disusul Bopeng, Ricky dan yang terakhir saya.
Saya duduk di samping mesin, bising sekali suaranya.kami duduk di bagian belakang tengah. Dibagian depan berbatas dengan mesin yang berisik ada 2 orang ibu-ibu, 1 anak kecil sekitar 5 tahun dan 1 orang nenek yang sedang berbaring. Ada satu ibu sambil memangku anaknya memasang ekspresi takut, karena setiap kali kapal menambrak ombak hantamannya begitu terasa sampai ke bagian dalam kapal.Ibu itu ketakutan sampai sesekali mengeluarkan air mata. 1 jam 15 menit kami di ombang ambing ombak selat sunda kelapa.

45 menit berselang dari keberankatan awal. Saya merasa bosan di bagian dalam kapal.Akhirnya saya memutuskan untuk keluar, kebagian atas kapal. Sambil merekam video saya naik kebagian atas dan berjalan ke bagian depan kapal, sambil terhuyun-huyun ombang yang menggoyang kapal kami. Cuaca sangat terik apa lagii tepat pukul 2 siang. Mataharin berada diatas dan di kelilingi lautan luat, hanya beberapa pulau yang mau menunjukan daratannya.

Pk 14.30

Kami tiba di dermaga untuk kepulauan sebesi. “akhrinya sampe juga di sebesi.”ucap syukur saya.
“tinggal gimana nanti ke Krakatau.” Jawab Bopeng sambil mengambil tas yang di berikan bang Edo.
“yuk, kita duduk-duduk sambil ngobrol-ngobrol” ajak bang Edo.

“nah di sini aja bang.” Jawab saya, menemukan tempat rerumputan di pinggiran pantai dengan bagian beberapa bagian sedang dilakukan pembangunan untuk resort. Di dekat sana ada pendopo seperti aula tempat berkumpul.
“keluarin we, matras sama kita bikin kopi-kopi.” Kata bang Edo.

Semua tertata rapi. “nih trangia masak air nih bakal kopi, gw mau jait sandal. Sandal gunung gw udah “nganga” belakangnnya “, saya berkata sambil mencari paku dan benang.
“beli aja sih mas, ada yang jual lem di situ.” Jawab Jasiman, penduduk asli sana yang dari lahir sudah berada di pulau sebesi.
“gak ada duit saya pak, ini kan dijait juga bisa ,” jelas saya.
“kayak tukang sol sepatu lo, we.” Ledek Bopeng pada saya.
“kreativitas bor, semoga kuat sampe Krakatau.” Jawab saya sekenannya.
“emang bisa nih kita ke Krakatau”. Respon bopeng.
“aminin aja.” Jawab ricky sambil bikin kopi.

“emang mau ke Krakatau mas?” jawab bapak berkulit coklat tua berbadan kurus dan cukup tinggi biasa di panggil jasiman.
“ tak kenal maka tak sayang, namnya siapa mas?” Tanya bang Edo sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
“Jasiman” jawabnya.
“emang bisa pak ke Krakatau ?” Tanya saya.
“ ya bisa naek kapal, kalo mau sewa 2 juta lah, kesana” jawabnya.
“kita kalo segitu gak ada uangnya pak, bisa gak sih pak kami numpang-numpang kalo ada kelompok yang kesana?” jawab saya.
“bisa aja mas, tar tannya sama ketua rombongannya boleh gak tuh nebeng sampe sana.” Jelas pak Jasiman.
“boleh tuh, pak…. Siapa namnya tadi? JAYUSMAN ya?” Tanya bang Edo membuat kami semua tertawa.
“yaudah tenang aja besok saya ngomong sama mas reno ketua rombongan ini.” Jawab Jasiman santai.

“emang baru pertama kali ke sini mas?” Tanya Pak Jasiman.
“ia mas lagi survey, kita di sini backpacker-backpacker kere mas.” Jawab bang Edo sambil tertawa riang menikmati indahnya pulau sebesi.

“rencananya sih mau bawa temen-temen kampus buat ke sini, jadi survey dulu.” Jawab saya.
“oh mau buka trip juga” tegas dia tapi santai.
“kopi bang?” tawar Bopeng.
“ia gampang” jawab Jasiman.

Pk 15.00

Bang edo pergi hunting-hunting foto, bopeng mandi dan ricky tidur-tiduran sedangkan saya sedang asik menjahit sandal gunung saya yang sol bawahnya “menga-nga” karena lemnya tidak kekuat menahan berat beban tubuh saya.
“gak bakal kuat itu sandal, mending beli lem aja” cetus Pak Jasiman sambil menghisap rokok kretek miliknya.
“emang di sini ada yang jualan lem pak? Kalo sandal ada gak ya?” Tanya bopeng.
“ada mas di warung-warung mah harganya 11 ribu lah kurang lebih.” Jawab Jasiman menanggapi pertanyaan bopeng.
“sandal apa tuh pak?” Tanya bopeng lagi.
“sandal jepit lah mas”. Jawabnya.
“saya kira sandal gunung gitu 11 ribu ahahahha.” Jawab bopeng sambil tertawa.

“di sebelah sana belok kiri setelah dermaga ada villa juga.” Tegas Jasiman.
“oh gitu resort gitu pak? Enak gak tempatnya pak?” Tanya saya.
“wah, enak itu disana mah sepi bagus deh tempatnya.” Jawabnya untuk menarik perhatian saya.
“ hmm , berapaan tuh pak kalo resort disana?” Tanya saya sambil asik menjahit sandal gunung.
“disana 1 resort 1 malam Rp 300.000 ribu mas, 1 resort bisa 10-11 orang lah” jawabnya.
“oh saya baca di internet Rp 200.000 itu untuk 10 orang 1 resort.” Jawab saya.
“salah kali itu mah mas, Rp300.000 itu sekarang. Kalo mau liat sih yu saya anterin.” Ajaknya sambil cengengesan.Saya piker hobby pak Jasiman ini memang nyengir, dari awal sampe akhir selalu tertawa.

Pk 16.30

Saya dan bopeng memutuskan untuk pergi melihat resort yang ditawarkan oleh pak Jasiman. “bentar gw ambil camera dulu, lo bawa handycamnya we.” Ajak bopeng tergesa-gesa mengejar waktu seblum gelap.
“86 komandan” tegas saya.

Kami berjalan menyusuri pantai menuju villa yang ingin diperlihatkan oleh Jasiman.Dari kejauhan sudah tampak terlihat villa tersebut.
“pak kalo malem di sini aliran air dong ya pak, kalo malam kan air pasang” Tanya saya pada jasiman.
“ia bener, waktu itu ada bule yang camp di situ minta tolong saya, saya gak ngerti jelasinnya yaudah saya biarin aja. Eh pas malem jur… banjir deh ahahha” jelas jasiman sambil jalan dan tertawa.
“matahari sama tanamannya asik juga nih peng, udah gitu tempatnya sepi banget gak ada suara mesin dan lainnya” tegas saya memuji keindahan Sang Pencipta.
“ia we bagus nih tempatnya, bagus banget pas. Rekam we.” Sambil mengambil beberapa gambar.
“ ya beginilah tempatnya. Ini yang punya beda sama yang disana. Yang di sini mah punya pribadi, punya pak Hardi.” Jelas Jasiman.

Tempatnya persis tepi pantai, ada meja-meja dari pohon. Ada hammock yang menggantung siap untuk di tiduri, ada anjing-anjing liar yang berlari-lari.

“ini kamarnya mas, kurang lebihnya bisa mas liat sendiri” tegas Jasiman.
Dinding kokoh baru dibangun dengan cat list biru muda, warna khas pinggir pantai. Dan ada 1 bangunan villa yang belom jadi.

“HARDI.” Kenal bapak berbadan cukup besar berkulih agak gelap dan rambut yang sedikit memutih.
“ saya, Michael riwoe pak , boleh di panggil OE kok” jawab saya mencairkan suasana.
“ lagi cari tempat buat tinggal atau lagi survey aja mas?” tanyanya.
“lagi survey buat bikin acara anak-anak kampus pak, bagus ya pak tempatnya.” Jawab saya sambil celingukan melihat sekitaran Villa Putri itu namanya.

“yah lumayan lah tempatnya, mudah-mudahan bisa nyaman di sini ya, sekalian ajak temen-temennya yang banyak biar pada maen ke sini.” Tegasnya.
“kalo pengen nyewa tempat ini masalah kapal sama makan gimana tuh pak?” Tanya saya mengajaknya berbicara lebih serius.
“ kalo di sini kapal yang besar 3-5 juta lah penyewaanya, tempat tinggal kalo ditempat saya Rp300.000 , terus kalo masalah makan kita juga bisa nyiapin sekita Rp15.000 perorang lah 1 kali makan, nah sisanya tergantung mas deh tuh mau gimana” jelasnya menunjukan bahwa dia sering bernegosiasi harga dengan turis local.
“okok di sini bisa BBQ gitu gak pak?” Tanya saya sambil mencatat informasi yang Pak Hardi berikan.
“wah kalo itu Tanya Jasiman deh” tegasnya.
“kalo itu mah bisa kira-kira 1 kilonya, ikan ya mas. Sekita Rp 45.000 lah itu kira-kira dapet ikan sekita 4-5 ikan/kg nya.” Jelasnya
“okok cakep tuh we.” Cetus bopeng sambil mengambil gambar-gambar yang sekiranya penting.

“ Di sini ada perkampungan gak sih pak?” Tanya saya untuk melepas keraguan saya.
“ada mas, di belakang sana perkampungan tuh, di belakang villa ini. Nanti mas pas balik muter aja lewat belakang.” Jawabnya
“oh bisa tembus ya pak?” Tanya bopeng.
“bisa lah ini kan kampung semua, ada 2-3 kampung di sini” tegas pak Hardi.

Waktu semakin larut membuat kami memutuskan untuk jalan kembali menuju tempat kami menaru beberapa barang-barang.

“kita lewat belakang aja peng”. Tegas saya karena penasaran akan kampung yang di bilang Pak Hardi.
“ok, kalo awal kita lewat pinggiran pantai kan? Kalo malem gak bisa lewat ya pak.” Tanya bopeng dengan pertanyaan yang dia sudah tau jawabannya. Itu lah kebiasaan seorang Nauval alias Bopeng.

Jalan setapak tanah dengan kanan kiri tanaman, itu yang kami liat sampai menuju jalan besar yang sudah di konblock. Banyak motor lalu-lalang menunjukan bahwa kehidupan di sini sudah cukup baik. Aktifitas pedasaan mulai tampak terlihat. Dari anak muda yang duduk menunggu malam tiba. Tiba-tiba.

“wihhhhhh, liat kebonya peng lagi berendem dilumpur. Jarang nih peng ngeliat ginian langsung.” Tegas saya.
“wih sabi, pak kalo kita turun kesana kebonya gapapa kan pak?” Tanya bopeng pada Pak Jasiman.
“gpp foto aja” tegasnya.

Pemandangan yang langka karena perkotaan sudah di penuhi oleh hutan gedung.
“kata kebonya oi, ngapain tuh moto-moto kita” cetus jasiman, membuat kita bergerak kembali memutari desa.
Desa yang tersebunyi, disana kehidupan mayoritas nelayan berjualan ada kurang lebih 900 kepala keluarga berdasarkan informasi yang saya dapat. Terdapat PLN juga tetapi tidak setiap harinya menya 24 jam, jadi ada beberapa dari mereka menyediakan genset. Warga sekitar juga sangat ramah kepada orang-orang yang datang berkunjung, karena memang beberapa warga di sini rumahnya sering digunakan sebagai tempat tinggal touris-touris local jadi mereka sangat menjaga hubungan baik antara touris dan warga sekitar.

Pk18.00

Kami sampai ketempat awal kami, saya lihat Ricky sudah tertidur pulas dan ada beberapa tenda yang terbuka di sekitar kami duduk. Dan bang Edo sedang asik bermain dengan cameranya. “tenda siapa bang?” Tanya saya kepada bang Edo.
“yang ini punya summarecon serpong, yang ini punya anak muda tuh, pada bawa motor. Kenapa dibawa ya motornya emang di dermaga canti gak aman kali ya? Udah mukanya disapa pada nekuk semua lagi!” tegas bang Edo sambil menghisap sebatang rokok Marlboro Merah.
“kenapa pada nekuk emang bang komuknya?” Tanya saya.
“ nah lo jadi backpacker gak boleh gitu tuh, lo harus pinter bersosialisasi “ tegas Bang Edo yang memang selalu memberi pelajaran kepada kami dari awal perjalanan sampai sekarang ini.
“ia sih bang, kalo kita gak ramah kita gak bakal sampe sini nih bang” jawab saya.
“ yoi bro” tegasnya.

Pk 19.15

Kami memutus kan merapikan barang-barang kami agar enak dilihat orang-orang. Karena kami disana hanya beralas matras dan beratap langit. Usai merapikan tempat kami beristirahat sambil bercerita-cerita lucu. Sampai akhirnya hujan rintik-rintik turun yang membuat kami harus mengambil keputusan berteduh di pendopo. “barang-barang tutupin aja pake matras, tas kita bawa kependopo?” cepat dan tegas pergerakan yang dilakukan bang Edo. Tidak heran karena basic soft skill dan Hard skill bang Edo mengenai adventure memang cukup baik.

Sambil menunggu hujan rintik-rintik selesai kami memutuskan untuk bermain “GAPLEK” .

Tidak hanya kami berempat di pendopo. Ada kelompok-kelompok lain yang sama seperti kami. Permainan kami lanjutkan diawali oleh saya yang membagi kartu, permainan gaplek kami menggunakan system RT. Dimana yang kalah 3 kali berturut-turut dan yang kalah sebanyak 5 kali menjadi RT dengan mengocok kartu baik dia kalah atau pemenang ketika dia menjadi seorang RT.
Bopeng menjadi RT dan ketika hampir menjadi RW.

“mas, nih ada bebek nih mas lumayan dimakan tadi abis bakar-bakar?” ujar mas-mas dari rombongan summarecon serpong sambil memberikan semangkok piring berisi bebek.
“wih, makasih loh mas.” Tegas saya.

Pk22.00

Ujan rintik-rintik berhenti, sambil bermain kami menunggu kepastian dari pak Jasiman mengenai keberangkatan kami nanti ke-krakatau.
“makan bebek enak kali ye, pake nasi sisa tadi tuh” ajak Band Edo
“ yu, sekalian ke pinggir pantai aja lah istirahat, gw buka flysheet dah buat kita tiduran.” Tegas saya sambil membongkar deuter 35+10 L saya.

Kami siap tidur dan beristirahat, Jasiman datang dengan santainya
“pak, bsk kita gimana nih pak ?” tegas saya.
“udah tenang aja bsk jam 3 pagi jalan.” Jelasnya
“ok deh pak kita istirahat dulu ya.” Jawab saya

lalu kami tertidur, beralas flysheet dan beratap langit.

Minggu, 9 November 2014

Pk03.00

Bang Edo sudah bangun, disusul Ricky. Ricky sudah bangun tetapi dengan santai ia masih berbaring kecil .
“Harus gw nih yan bikin kopi ?” tegas Bang Edo.
Tersentak ricky bangun dan membuat kopi.

“we, kalo udah di gigitin nyamuk bangun berarti.” Tegas Bang Edo pada saya yang sedang “ngumpulin nyawa”.”
“ia bang !” jawab saya langsung bergerak.
“ayo udah jam 3an nih.” Tegas bang edo
“yu packing yu…” ajak saya karena bopeng masih tetap duduk tanpa pergerakan yang signifikan.

Pk03.30

Jasyusman datang dengan santai, dan kami sedang packing semua alat yang kami gunakan.
“yu mas, jalan..”ajak Jasiman.
“yah ini barang-barang dikit lagi.” Jawab saya.
“udah tinggal aja. Bawa trangia makanan bekal disana, air kalo ada” Bang Edo memberi keputusan.
Saya langsung membawa semuanya dengan tas jaring mirip sarung sandal gunung.

Kami berjalan siap untuk menyebrangi lautan p.sebesi. “pak, nanti kita ngomong gimana nih?” tannya saya pada Pak Jasiman.
“Tunggu aja di kapal, saya cari mas Reno dulu.” Jawabnya.
“kita menunggu di kapal “ jawab Bang Edo.

Kami menunggu cukup lama. “mana tadi siapa yang mau ngikut rombongan?” tegas pria berbadan besar bertubuh hitam, memakai topi merah namanya Reno.
“kita pak” tegas kami.
“kalian tau bahayanya kesana kan?berani nanggung resiko?” tegasnya.
“siap pak” tegas saya.

Akhirnya kami pergi dan meninggalkan barang-barang dengan menitipkannya kepada Jasiman. Bang Edo bercerita kalo menurut orang sekitar pak Jasiman dulunya pernah nyuri barang-barang peserta. Tapi dengan santai Bang Edo menjawab “ udah santai aja, positive thingking aja. Gak bakal ilang lagian jasiman baik kok sama kita, ia gak we?” jelas bang Edo sambil memberi saya pertanyaan.
“ia sih bang, udah slow aja”tegas saya.

Pk04.20

Selama perjalanan orang-orang banyak yang tertidur perlahan-lahan.Kami ber 4 duduk terpisah. Bopeng dengan Ricky di depan , saya dan Bang Edo di belakang. Ricky dan bopeng mulai terlelap.Saya pun terlelap karena mata yang suda tidak kuat mengangkat matanya.

Pk.05.40

Kami sampai di kaki gunung Krakatau. Air masih agak pasang, kami harus sedikit bermain air untuk mendaki gunung merapi aktif ini. Kami ber 4 sudah turun dari kapal.Melihat sekitar lalu memutuskan untuk langsung menanjak setelah mengambil beberapa gambar.Kami berjalan sambil bercerita.Semua lucu semua gembira, jalanan pasir terus menanjak, terkadang kami turun dikit-dikit karena pasir yang merosot.Kami merekam dan mengambil gambar sambil mendaki.30 menit sudah kami lalui dengan tracking, kami sampai di puncak anak gunung Krakatau. Tidak terlalu berat, tetapi bisa membuat kita keluar dari zona nyaman kita sehari-hari. Cerita dan ngobrol bersama sejak awal hilang, kami mulai berjalan masing-masing, semua tampak diam dan saya pun diam. Banyak keinginan yang saya inginkan setelah melihat cara kerja senior-senior di belantara Indonesia. Bang Vau yang selalu focus terhadap acara yang telah dia pikirkan, bang dodi dan bang didit yang kuat.
Saya ingin seperti mereka, saya ingin berusaha mengikutinya entah mengapa. Saya ingin menunjukan apa yang saya buat kepada Bang Edo dan yang lain. Tetapi saya sedang terikat sesuatu yang sedikit membatasi saya, walaupun benda yang mengikat saya sangat memberikan saya pelajaran hidup, tak ada kata yang bisa menggantikannya.Dia memang guru dan sahabat yang baik. Tapi saya mau mencoba apa yang telah saya pelajari. Saya suka mencoba sesuatu. Itu yang membuat saya berani menjalankan hidup.” Saya tidak mau semua ini rusak, semua ini harus baik jalannya saling bantu saling support sebagain keluarga. Tak sadar saya tiba dipuncak yang cukup mudah di daki, tapi cukup sulit digapai.

Pk 08.00

Kami sudah dipuncak anak Krakatau, laut asap, pasir, tanah udara cahaya itu yang kami lihat, camera sebagus apapun takan bisa menangkap moment bagus ini. Saya senang karena saya bisa melihat karya Tuhan yang Cukup unik ini.
“mantab sampe we!” teriak bopeng sambil mengajak –toss pada saya. “Yoi akhirnya ngeteng bisa juga kok ke Krakatau.” Jelas saya. “yoi , Backpacker kere juga bisa ke sini kok ahahhahaa,” cetus bang edo, sambil memberikan tangan pada Ricky.
“kayaknya jadi nih kita bikin trip ke sini nanti.” Tegas saya.
“jadi lah” jelas Ricky.

Saya menyiapkan trangia dan yang lainnya untuk membuat kopi, bang Edo hunting bersama Ricky, saya dan Bopeng menyiapkan hangat-hangat untuk temen-temen. 1 sampai 2 orang menghampiri kami, kami tawarkan kopi hangant di puncak anak Krakatau ini. Teman kami semakin banyak
Kami berempat menyalurkan aura positive yang manis untuk teman-teman di sekitar puncak anak Krakatau ini. Makin banyak yang ingin bergabung dengan kami, ada mas Reno yang tadi nya tegas dan agak ngotot jadi lembut, ada temen-temen lainnya dari “Media Traveller” dan “ DKK Traveller”.Semakin memiliki teman yang banyak.Semua bercerita berbagi walaupun mereka lupa bahwa mereka baru kenal disana.

“wih, ada acara apaan tuh,” tegas bopeng.
“tau lau bukannya foto-foto we?” cetus bang edo, membuat saya berdiri mengajak ricky untuk mencari moment-momment unik di gunung Krakatau ini.

Pk09.00

“yu Giring.” Cetus Bang Reno.
Saya celinguk tidak mengerti apa yang di maksut. Tiba-tiba temen-temen dari provider outdor ini mengajak semua orang untuk turun.Itu membuat kami juga memutuskan turun karena kami hanya menumpang oleh mereka.
“kayaknya kita gak langsung pulang nih bang, snorkeling dulu di lagon cabe. Kata ABK!” jelas saya kepada bang Edo.
“yaudah bagus lah, paket geratisan.” Tegas bang Edo.
“ahahha “ kami tertawa.

Kami turun dengan hati bangga dan puas bahwa kami bisa ke sini walau hanya dengan 4 orang tanpa harus menyewa kapal yang kata orang-orang 2 juta rupiah.Kita bisa menikmati Indonesia dengan kondisi apapun, hanya bagai mana anda dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar secepat apa dan seberguna apa diri kalian untuk sesama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>